+ Follow me
FROM BLUE TO BLACK.
»
HELLO aliens (:
You are at MY blog, so MY BLOG, MY SAY.
LOL, leave if you hate me, i do i look like i care?
Follow me alrights? The follow button is at the top right hand corner if you cant see.
Click the navigations to navigate around my blog.
The arrows beside the tiny icons are the navigations. You should know how it works right?
The tiny icon would 'light up' if you are at the respective places.



Click to see what the icons mean:
»Home
»Profile
»Links
»Tagboard
»Credits
Metamorfosis Total.
► Sabtu, 23 Oktober 2010 | 0 comments


Kini usianya semakin renta, duduk di teras reot bersama koran Kompas di genggamannya. Teka-Teki Silang dan berita seputar Gayus Tambunan selalu ada di depannya. Begitulah kehidupan Ayahku saat ini. Peci di kepala, Sarung di pundak dan secangkir teh di atas meja lama yang kuingat itu sudah ada sejak aku kecil. Dulu Ayah tidak seperti sekarang, ia sangat keras kepala dan susah dimengerti, tetapi sejak kejadian itu, dia berubah. TOTAL.

    14 Februari 1999. Hari itu hujan deras, deras sekali. Aku masih berumur 10 tahun dan Ayahku masih kepala 4. Ibu sedang berada di dapur, membuatkan secangkir kopi untuk Ayah dan segelas susu coklat untukku. Ayah memang sering marah jika tidak dibuatkan kopi ketika hujan baik dia yang meminta atau tidak. Ayah memang sulit dimengerti.

    Kehidupan kami berlangsung cukup lancar, namun satu perbuatan yang tidak pernah Ayah lakukan membuatku tersadar. Aku dan Ibu selalu sholat berjamaah, membaca al-Quran dan sari tilawah, dzikir dan tarawih ketika memasuki bulan Ramadhan bersama-sama. Tapi Ayah? Jangankan tarawih, puasa saja sering setengah hari. Sholat? Aku tak pernah melihat dia shalat. Ada apa ini? Apakah Ayah bukan muslim? aku memang kebingungan saat itu.

    Kutanya ke Ibu, tetapi jawabannya tidak sesuai dengan pikiran yang ada di benakku ini. Ayah itu islam. Tapi mengapa dia terlihat tidak shalat? Selama 10 tahun, aku tak pernah melihat dia shalat.

    Berinisatiflah aku, adzan ashar berkumandang, saatnya aku melakukan rencanaku. Aku mengajak Ayah shalat. Aku ingin Ayah menjadi imamnya.
    Yah, shalat bareng yuk.. Ayah jadi imamnya..
    Ada-ada saja kamu ini. Kamu bisa shalat sendiri kan? Ngapain ajak Ayah? Resek banget. Ayah Capek tau Ujarnya dengan muka mengernyit.

    BINGUNG. Inilah yang selalu ada di benakku waktu itu. Ayah juga sering pulang malam dengan botol minuman keras di tangannya, bahkan, bisa lebih dari satu botol ia bawa pulang.

    Ayah selalu begitu, bahkan berbulan bulan sampai setahun kemudian, ia tetap tak berubah. Aku dan Ibu tetap berusaha agar Ayah menjadi imam di keluarga kecil ini.

    20 Mei 2000. Genap aku berumur 11 tahun. Aku tak mengerti, bahkan makin tidak mengerti karena dia. Saat itu, seperti biasanya, adzan maghrib berkumandang di masjid dekat rumah. Aku dan Ibu sudah seharusnya mengajak Ayah untuk shalat bersama dan sudah seharusnya Ayah menolak. Tapi, hal yang sangat janggal terjadi.

    Hari ulangtahunku waktu itu membuat kami berdua, Aku dan Ibu sibuk merapikan sampah-sampah yang ada di dalam rumah kami melakukan pesta ulangtahunku di dalam rumah- sehingga kami lupa untuk mengajak Ayah shalat bersama dengan anggapan Ia pasti menolaknya. Namun waktu itu, Ayahlah yang mengajak kami untuk shalat. Ayah yang sejak satu tahun yang lalu bahkan tidak pernah shalat itu bahkan mengajak kami untuk shalat bersama. Semakin bingung dengan perkataan Ayah, aku bertanya.
    Yah. Beneran? Ayah mau jadi imamnya kan? ujarku terheran-heran.
    Nggak mau. Kamu yang jadi imamnya, Ayah yang ikutin aja. Tuturnya.
    Walau terheran-heran dan sangat kebingungan, aku langsung meng-iya-kan ajakannya. Kami sholat bersama, dengan aku sebagai imamnya. Inilah kali pertama aku sholat bersama anggota keluarga yang lengkap.

    Sejak hari itu, Ayah semakin berubah. Dari yang keras kepala dan susah dimengerti menjadi orang yang asik dan seru bagiku dan Ibu. Dulu, Ayah mengatakan ia bermimpi didatangi seseorang berbaju putih dan mengatakan bahwa Ia harus berubah. Ayah telah banyak melakukan kesalahan dan dosa. Ayah harus shalat sungguh-sungguh dan beribadah dengan baik jika ingin dosanya diampuni. Dan kejadian itu sehari sebelum ulangtahun ke-11ku terjadi.
Tapi Aku tidak bisa shalat. Membaca Al-Quran juga tidak pernah. Aku hanya komat-kamit saja ketika shalat Jumat. Ujarnya di dalam mimpi itu. Tidak apa-apa. Jika kamu berusaha, kamu pasti bisa. Anakmu bisa membantumu. Ujar malaikat itu.

    Aku shock. Ternyata Ayah tidak bisa shalat, dan Ayah memintaku untuk membantunya. Berpikir agar tidak menyakiti hatinya, aku membantu sekuatku. Seperti mengajari anak berumur 5 tahun, Ayah belajar shalat, al-Quran dan lain lain dengan penuh usaha. Pengetahuan Ayah tentang islam memang benar-benar minim, terkadang, aku sering menggeleng-gelengkan kepalaku ketika memikirkannya.

    Alhasil, kerja kerasnya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Ayah bisa membaca al-Quran dengan cukup fasih, shalat selalu 5 waktu dan kini mengajak kami shalat bersama adalah hal yang biasa, tidak seperti dulu.

    Kejadian itu ternyata berarti bagi Ayah. Perubahan yang cukup drastis memang membuat kami juga bangga mempunyai Ayah seperti dia. Ayah memang hebat, sejak dulu hingga sekarang.

    Kali ini, tidak seperti sebelumnya, Ayah sedang duduk di teras rumahku yang lama, menatapi garis-garis langit kuning dan merah, memandang burung-burung camar mengikuti cahaya senja sembari menunggu bulan dan rintik matahari muncul di permukaan. Inilah Ayahku yang sekarang. Memakai kacamata, berambut putih dan kulit yang sudah mengkerut.

    Namun bagaimanapun juga, INILAH AYAHKU, dan. Aku sayang dia.

Label: , ,